Jumat, 12 Desember 2014

laporan pendahuluan trauma dada



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Semakin berkembangnya jaman maka semakin maju pula pola pikir manusia misalnya, manusia dapat menciptakan tranportasi yang sangat dibutuhkan oleh manusia dalam melakukan aktifitas sehari-hari, tapi selain segi positif timbul pula segi negatif misalnya dengan alat tranportasi yang digunakan untuk beraktifitas dapat menyebabkan kecelakaan, salah satu contohnya adalah fraktur pada tulang dan dapat pula terjadi trauma pada dada.
Trauma adalah penyebab kematian terbanyak pada dekade 3 kehidupan diseluruh kota besar di dunia dan diperkirakan 16.000 kasus kematian akibat trauma per tahun yang disebabkan oleh trauma toraks di Amerika. Sedangkan insiden penderita traumatoraks di Amerika Serikat diperkirakan 12 penderita per seribu populasi per hari dankematian yang disebabkan oleh trauma toraks sebesar 20-25% . Dan hanya 10-15% penderita trauma tumpul toraks yang memerlukan tindakan operasi, jadi sebagian besar hanya memerlukan tindakan sederhan untuk menolong korban dari ancaman kematian. Canadian Study dalam laporan penelitiannya selama 5 tahun pada "UrbanTrauma Unit" menyatakan bahwa insiden trauma tumpul toraks sebanyak 96.3% dariseluruh trauma toraks, sedangkan sisanya sebanyak 3,7% adalah trauma tajam. Penyebab terbanyak dari trauma tumpul toraks masih didominasi oleh korban kecelakaan lalu lintas (70%). Sedangkan mortalitas pada setiap trauma yang disertai dengan trauma toraks lebih tinggi (15.7%) dari pada yang tidak disertai trauma toraks(12.8%). Pada trauma dada biasanya disebabkan oleh benda tajam, kecelakaan lalulintas atau luka tembak. Bila tidak mengenai jantung, biasanya dapat menembus rongga paru-paru. Penderita nampak kesakitan ketika bernapas dan mendadak merasa sesak dan gerakan iga disisi yang luka menjadi berkurang (Kartono,M. 1991).

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian trauma thorax ?
2.      Bagaimana etilogi trauma thorax ?
3.      Bagaimana prognosis penyakit trauma thorax ?
4.      Bagaimana tanda dan gejala trauma thorax ?
5.      Apa manifestasi klinis trauma thorax ?
6.      Apa anatomi dan fisiologi trauma thorax ?
7.      Apa klasifikasi trauma thorax ?
8.      Bagaimana patofisiologi trauma thorax ?
9.      Bagaimana WOC trauma thorax ?
10.  Bagaimana penatalaksanaa trauma thorax ?
11.  Bagaimana komplikasi trauma thorax ?
12.  Bagaimana askep trauma thorax ?
C.     Tujuan
a.       Tujuan Umum
1.      Sebagai salah satu tugas dalam Mata Kuliah Keperawatan Gawat Darurat
2.      Memberikan informasi bagi para pembaca tentang Trauma Thorax
b.      Tujuan Khusus
1.      Menjelaskan pengertian trauma thorax
2.      Menjelaskan etilogi trauma thorax
3.      Menjelaskan prognosis penyakit trauma thorax
4.      Menjelaskan tanda dan gejala trauma thorax
5.      Menjelaskan manifestasi klinis trauma thorax
6.      Menjelaskan anatomi dan fisiologi trauma thorax
7.      Menjelaskan klasifikasi trauma thorax
8.      Menjelaskan patofisiologi trauma thorax
9.      Menjelaskan WOC trauma thorax
10.  penatalaksanaa trauma thorax
11.  Menjelaskan komplikasi trauma thorax
12.  Menjelaskan askep trauma thorax


BAB II
LANDASAN TEORI
A.  Defenisi
       Trauma adalah keadaan yang disebabkan oleh luka atau cedera (Dorland, 2002 ). Pada kenyataannya, trauma adalah kejadian yang  bersifat holistic dan dapat menyebabkan hilangnya produktivitas seseorang.
Trauma thorax adalah semua ruda paksa pada thorax dan dinding thorax, baik trauma tajam atau tumpul (Hudak,1999 ).
Trauma thorax adalah trauma yang terjadi pada thorak yang menimbulkan kelainan organ-organ didalam thorak.
Trauma dada diklasifikasikan dengan trauma tumpul atau tembus ( penetrasi ). Cedera pada dada sering mengancam jiwa dan mengakibatkan satu atau lebih mekanisme patologi paberikut :
1.    Hipoksima akibat gangguan jalan napas, cedera pada parenkim paru, sangkar iga, dan otot pernapasan, kolaps paru, dan pneumothoraks.
2.    Hipovolemia akibat kehilangna cairan dari pembuluh darah, ruptur jantung atau hemothoraks
3.    Gagal jantung, akibat tamponade jantung, kontusio jantung atau tekanan intrathoraks yang meningkat.

Mekanisme ini sering kali mengakibatkan kerusakan ventilasi dan perkusi yang mengarah pada gagal napas akut, syok hipovolemia, dan kematian

B.     Etiologi
1.      Trauma tembus pada dada terdiri dari luka tembus dan luka tusuk
Luka tembus (GSW) dan luka tusuk adalah jenis trauma dada tembus yang palin umum. Luka tersebut di kelompokkan berdasarkan pada kecepatannya.
a.       Luka tusuk umumnya dianggap kecepatan rendah karena senjata menghancurkan area kecil di sekitar luka. Kebanyakan luka tusuk di sebabkan oleh pisau. Luka ini sering kali berkaitan dengan pecandu alkohol dan obat- obat terlarang.
b.      Luka tembak pada dada dapat di kelompokkan sebagai kecepatan rendah, sedang dan tinggi. Faktor yang menentukan kecepatan dan mengakibatkan keluasan kerusakan termasuk jarak dari mana senjata itu ditembakkan. Peluru dapat menyebabkan kerusakan pada tempat penetrasi dan sepanjang jalur peluru tersebut dan dapat memantul dari struktur tulang yang dapat merusak organ-organ dada dan pembuluh besar.

2.        Trauma tumpul yang tediri dari kecelakaan kendaraan bermotor , jatuh dan pukulan pada dada. Komplikasi yang dapat terjadi berupa hematothoraks, fraktur iga, dan rupture bronkus atau diafragma

C.     Prognosis Penyakit
1.      Open pneumothorak
Timbul karena trauma tajam, ada hubungan dengan rongga pleura sehingga paru menjadi kuncup. Seringkali terlihat sebagai luka pada dinding dada yang menghisap pada setiap inspirasi
2.      Hematothoraks
Pada keadaan ini terjadi perdarahan hebat dalam rongga dada. Ada perkusi terdengar redup, sedangkan vesikuler menurun pada auskultasi.
3.      Fraktur iga
Fruktu iga adalah tipe trauma dada yang paling umum terjadi pada lebih dari 60 % pasien yang masuk rumah sakit dengan cedera dada tertutup. Jika sadar, pasien akan merasakan nyeri yang sangat hebat, nyeri tekan, dan spasme otot di atas area fraktur, yang akan di perburuk dengan batuk,napas dalam, dan gerakan. Area sekitar fruktur mungkin tampak memar.
4.      Flail chest
Flail chest terjadi ketika dua atau lebih iga berdekatan fraktur pada satu tempat atau lebih, mengakibatkan segmen iga mengembang bebas. Sebagai akibatnya dinding dada kehilangan kestabilan dengan akibat lanjut kerusakan pernapasan dan biasanya gawat napas yang berat. Selama inspirasi , ketika dada mengembang bagian iga yang terlepas akan bergerak dengan cara paradoksikal yaitu tertarik ke dalam ketika inspirasi dan ketika ekspirasi karena tekanan intrathorax akan melebihi tekanan atmosfir segmen flail akan terdorong keluar, merusak kemampuan pasien untuk menghembus napas.

D.    Tanda dan gejala
1.      Ada jejas pada thorak
2.      Nyeri pada tempat trauma
3.      Pembengkakan lokal
4.      Sesak napas
5.      Takikardi
6.      Kulit pucat
7.      Insomnia
8.      Cemas, gelisah, fokus pada diri sendiri
9.      Kelemahan
10.  Anoreksia
11.  Perubahan kesadaran

E.     Manifestasi klinis
1.      Tamponade jantung
a.       Trauma tajam di daerah perikarduim atau di perkirakan menembus jantung
b.      Gelisah
c.       Pucat, keringat dingin
d.      Bunyi jantung melemah
e.       Pekak jantung melebar
2.      Hematothoraks
a.       Pada WSD darah yang keluar cukup banyak dari WSD
b.      Gangguan pernapasan
3.      Pneumothoraks
a.       Nyeri dada mendadak dan sesak napas
b.      Gagal pernapasan
c.       Dada atau sisi yang terkena lebih resonan pada perkusi dan suara napas terdengar jauh atua tidak sama sekali
d.      Luka tikaman dapat penetrasi melewati diafragma dan menimbulkan luka intra abdominal

F.      Anatomi Dan Fisiologi











1.      Dinding dada.
Tersusun dari tulang dan jaringan lunak. Tulang yang membentuk dinding dada adalah tulang iga, columna vertebralis torakalis, sternum, tulang clavicula dan scapula. Jarinan lunak yang membentuk dinding dada adalah otot serta pembuluh darah terutama pembuluh darah intrerkostalis dan torakalis interna.
2.      Dasar torak
Dibentuk oleh otot diafragma yang dipersyarafi nervus frenikus. Diafragma mempunyai lubang untuk jalan Aorta, Vana Cava Inferior serta esofagus
3.      Isi rongga torak.
Rongga pleura kiri dan kanan berisi paru-paru. Rongga ini dibatasi oleh pleura visceralis dan parietalis.
Rongga dada dibagi menjadi 3 rongga utama yaitu ;
1. Rongga dada kanan (cavum pleura kanan )
2. Rongga dada kiri (cavum pleura kiri)
3. Rongga dada tengah (mediastinum).
Rongga ini secara anatomi dibagi menjadi :
1.      Mediastinum superior, batasnya :
a.       Lateral : Pleura mediastinalis
b.      Anterior : Manubrium sterni.
c.       Posterior : Corpus Vth1 – 4
2.      Mediastinum inferior terdiri dari :
a.       Mediastinum Anterior batasnya :
1.      Anterior : Sternum ( tulang dada )
2.      Posterior : Pericardium ( selaput jantung )
3.      Lateral : Pleura mediastinalis
4.      Superior : Plane of sternal angle
5.      Inferior : Diafragma.
b.      Mediastinum Medium batasnya :
1.    Anterior : Pericardium
2.    Posterior ; Pericardium
3.    Lateral : Pleura mediastinalis
4.    Superior : Plane of sternal angle
5.    Inferior : Diafragma
c.      Mediastinum posterior, batasnya :
1.      Anterior : Pericardium
2.      Posterior : Corpus VTh 5 – 12
3.      Lateral : Pleura mediastinalis
4.      Superior : Plane of sternal angle
5.      Inferior : Diafragma.
Pleura ( selaput paru ) adalah selaput tipis yang membungkus paru – paru. Pleura terdiri dari 2 lapis yaitu ;
1.      Pleura visceralis, selaput paru yang melekat langsung pada paru –paru.
2.      Pleura parietalis, selaput paru yang melekat pada dinding dada.
Pleura visceralis dan parietalis tersebut kemudian bersatu membentuk kantong tertutup yang disebut rongga pleura (cavum pleura). Di dalam kantong terisi sedikit cairan pleura yang diproduksi oleh selaput tersebut
G.    Klasifikasi
a.       Tamponade jantung : di sebabkan luka tusuk dada yang tembus ke mediastinum/daerah jantung
b.      Hematotoraks : di sebabkan luka tembus toraks oleh benda tajam, traumatik atau spontan
c.       Pneumothoraks : : spontan( pecah), trauma ( penyedotan luka rongga dada ) , iatrogenik


H.    Patofisiologi
Trauma dada sering menyebabkan gangguan ancaman kehidupan. Luka pada rongga thorak danisinya dapat membatasi kemampuan jantung untuk memompa darah atau kemampuan paru untuk pertukaran udara dan oksigen darah. Bahaya utama berhubungan dengan luka dada biasanya berupa perdarahan dalam dan tusukan terhadap organ Hipoksia, hiperkarbia, dan asidosis sering disebabkan oleh trauma thorax. Hipokasia jaringan merupakan akibat dari tidak adekuatnya pengangkutan oksigen kejaringan oleh karena hipivolemia  ( kehilangan darah ), pulmonary ventilation/perfusionmismatch ( contoh kontusio, hematoma, kolapsalveolus ) dan perubahan dalam tekanan intrat thorax ( contoh : tension pneumothorax, pneumothoraxterbuka ). Hiperkarbia lebih sering disebabkan oleh tidak adekuatnya ventilasi akibat perubahan tekanan intrathorax atau penurunan tingkat kesadaran. Asidosis metabolik disebabkan oleh hipoperfusi dari jaringan ( syok ).








1.      Bullow  Drainage / WSD
Pada trauma toraks, WSD dapat berarti :
a.       Diagnostik :
Menentukan perdarahan dari pembuluh darah besar atau kecil, sehingga dapat ditentukan perlu operasi torakotomi atau tidak, sebelum penderita jatuh dalam shock.
b.      Terapi :
Mengeluarkan darah atau udara yang terkumpul di rongga pleura. Mengembalikan tekanan rongga pleura sehingga "mechanis of breathing" dapat kembali seperti yang seharusnya.
c.       Preventive :
Mengeluarkan udaran atau darah yang masuk ke rongga pleura sehingga "mechanis of breathing" tetap baik.
2.      Perawatan WSD dan pedoman latihanya :
a.     Mencegah infeksi di bagian masuknya slang.
Mendeteksi di bagian dimana masuknya slang, dan pengganti verband 2 hari sekali, dan perlu diperhatikan agar kain kassa yang menutup bagian masuknya slang dan tube tidak boleh dikotori waktu menyeka tubuh pasien.
b.    Mengurangi rasa sakit dibagian masuknya slang. Untuk rasa sakit yang hebat akan diberi analgetik oleh dokter.
c.     Dalam perawatan yang harus diperhatikan :
1.      Penetapan slang.
Slang diatur se-nyaman mungkin, sehingga slang yang dimasukkan tidak terganggu dengan bergeraknya pasien, sehingga rasa sakit di bagian masuknya slang dapat dikurangi.
2.      Pergantian posisi badan.
Usahakan agar pasien dapat merasa enak dengan memasang bantal kecil dibelakang, atau memberi tahanan pada slang, melakukan pernapasan perut, merubah posisi tubuh sambil mengangkat badan, atau menaruh bantal di bawah lengan atas yang cedera.
d.    Mendorong berkembangnya paru-paru.
1.        Dengan WSD/Bullow drainage diharapkan paru mengembang.
2.        Latihan napas dalam.
3.        Latihan batuk yang efisien : batuk dengan posisi duduk, jangan batuk waktu slang diklem.
4.        Kontrol dengan pemeriksaan fisik dan radiologi.

e.     Perhatikan keadaan dan banyaknya cairan suction.
Perdarahan dalam 24 jam setelah operasi umumnya 500 - 800 cc. Jika perdarahan dalam 1 jam melebihi 3 cc/kg/jam, harus dilakukan torakotomi. Jika banyaknya hisapan bertambah/berkurang, perhatikan juga secara bersamaan keadaan pernapasan.
f.     Suction harus berjalan efektif :
Perhatikan setiap 15 - 20 menit selama 1 - 2 jam setelah operasi dan setiap 1 - 2 jam selama 24 jam setelah operasi.
1.        Perhatikan banyaknya cairan, keadaan cairan, keluhan pasien, warna muka, keadaan pernapasan, denyut nadi, tekanan darah.
2.        Perlu sering dicek, apakah tekanan negative tetap sesuai petunjuk jika suction kurang baik, coba merubah posisi pasien dari terlentang, ke 1/2 terlentang atau 1/2 duduk ke posisi miring bagian operasi di bawah atau di cari penyababnya misal : slang tersumbat oleh gangguan darah, slang bengkok atau alat rusak, atau lubang slang tertutup oleh karena perlekatanan di dinding paru-paru.

g.    Perawatan "slang" dan botol WSD/ Bullow drainage.
1)   Cairan dalam botol WSD diganti setiap hari , diukur berapa cairan yang keluar kalau ada dicatat.
2)   Setiap hendak mengganti botol dicatat pertambahan cairan dan adanya gelembung udara yang keluar dari bullow drainage.
3)   Penggantian botol harus "tertutup" untuk mencegah udara masuk yaitu meng"klem" slang pada dua tempat dengan kocher.
4)   Setiap penggantian botol/slang harus memperhatikan sterilitas botol dan slang harus tetap steril.
5)   Penggantian harus juga memperhatikan keselamatan kerja diri-sendiri, dengan memakai sarung tangan.
6)   Cegah bahaya yang menggangu tekanan negatip dalam rongga dada, misal : slang terlepas, botol terjatuh karena kesalahan dll.
h.    Dinyatakan berhasil, bila :
a.       Paru sudah mengembang penuh pada pemeriksaan fisik dan radiologi.
b.      Darah cairan tidak keluar dari WSD / Bullow drainage.
c.       Tidak ada pus dari selang WSD.

K.    Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi pada trauma toraks adalah hemothoraks dan tamponade jantung. Kedua bentuk ini dapat mengancam jiwa pasien, oleh karena dapat dilakukan aspirasi segera dengan hanjatan ( shock ) akibat perdarahan. Selain itu komplikasi yang terjadi yaitu :
1.      Iga : fraktur multiple dapat menyebabkan kelumpuhan rongga dada.
2.      Pleura, paru-paru, bronkhi : hemo/hemopneumothoraks-emfisema
3.       Jantung : tamponade jantung ; ruptur jantung ; ruptur otot papilar ; ruptur klep Jantung
4.      Pembuluh darah besar : hematothoraks
5.      Esofagus : mediastinitis.
6.      Diafragma : herniasi visera dan perlukaan hati, limpa dan ginjal
7.      Tension penumototrax
8.      Penumotoraks bilateral
9.       Emfiema


BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A.    Pengkajian
1.      Identitas klien
            Meliputi nama, umur, jenis kelamin, suku/bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan, tanggal masuk, tanggal pengkajian, nomor register, diagnosa medik, alamat, semua data mengenai identitaas klien tersebut untuk menentukan tindakan selanjutnya.

2.      Riwayat Kesehatan
a.       Riwayat Kesehatan Dahulu
            Perlu di kaji apakah klien pernah mengalami trauma dada sebelumnya.
b.      Riwayat Kesehatan Sekarang
Biasanya terdapat jejas pada thorak dan klien biasanya tampak merasa nyeri pada tempat trauma dan terjadi pembengkakan lokal disertai sesak napas, insomnia, pasien nampak pucat, dan terlihat cemas, gelisah, Pasien biasanya mengalami kelemahan aktivitas dalam bergerak.
c.       Riwayat Kesehatan Keluarga
Mengkaji ada atau tidaknya keluarga mengalami penyakit seperti yang dialami klien

3.      Pemeriksaan Fisik
a.       Rambut            : biasanya rambut hitam, dan tumbuh subur
b.      Mata                : biasanya simetris kiri dan kanan, konjungtiva pucat, respon pupil baik
c.       Hidung                        : biasanya simetris kiri dan kanan, dan tidak terdapat polip
d.      Mulut               : biasanya tidak ada perdarahan
e.       Telinga : biasanya simetris kiri dan kanan, tidak menggunakan alat bantu
   pendengaran
f.       Dada               
Inspeksi           : biasanya frekuensi napas tidak normal, dada terdapat jejas
Palpasi             : biasanya premitus tidak sama kiri dan kanan
Perkusi             : biasanya redup
Auskultasi       : biasanya peningkatan jalan napas
g.      Jantung
Inspeksi           : biasanya simetris kiri dan kanan
Palpasi             : biasanya ictus tidak teraba
Perkusi             : biasanya pekak
Auskultasi       : biasanya irama jantung melemah apabila trauma menembus jantung
h.      Abdomen       
Inspeksi           : biasanya bentuk perut tidak membuncit
Aukultasi         : biasanya bising usus ada
Palpasi             : biasanya hepar tidak teraba, tidak ada nyeri tekan
Perkusi             : biasanya tympani
i.        Ekstremitas
Ekstremitas atas : biasanya tangan simetris kiri dan kanan, tidak ada lesi, terpasang infus, rentang gerak terbatas, turgor kulit menurun
Ekstremitas bawah      : biasanya gerakan terbatas, simetris kiri dan kanan
j.        Kesadaran : biasanyan dari kompos metis kooperatif sampai koma

4.      Pola Kebiasaan Sehari – hari
a.       Aktivitas/istirahat
Gejala : kelemahan, kelelahah dan gelisah
b.      Sirkulasi
Tanda : takikardi, TD : Hipotensi / Hipertensi
c.       Makanan/cairan
Gejala : hilangnya nafsu makan
d.      Nyeri / Ketidaknyamanan
Gejala : muncul tiba –tiba selama batuk atau regangan, menusuk – nusuk diperberat dengan nafas dalam, kemungkinan menyebar ke area leher, bahu dan abdomen.






B.     Diagnosa Keperawatan
1.      Pola napas tidak efektif berhubungan dengan ekspansi paru yang tidak maksimal karena trauma
2.      Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan refleks spasme otot sekunder
3.      Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme sekunder terhadap trauma

C.     Intervensi
NO
Diagnosa Keperawatan
Tujuandan Kriteria Hasil
Intervensi
Rasional
1
Pola napas tidak efektif berhubungandengan ekspansi paru yang tidak maksimal karena trauma

Tujuan:Pola pernapasan efektif
Kriteria hasil
a.       Memperlihatkan frekuensi pernafasan yang efektif
b.      Mengalami perbaikan pertukaran gas pada paru
c.       Adaptive mengatsi faktor – faktor penyebab
1.  Berikan posisi yang nyaman, biasanya dengan peninggian kepala tempat tidur balik ke posisi yang sakit dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin
2.  Observasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dan perubahan tanda – tanda vital







3.  Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paru – paru

4.  Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontro diri dengan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam

5.  Kolaborasi dengan tim kesehatan lain
1.  Meningkat inspirasi maksimal, meningkatkan ekspansi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit



2.  Distress pernapasan dan perubahan tanda – tanda vital dapat terjadi sebagai akibat stres fisiolofi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syok sehubungan dengan hipoksia
3.  Pengetahuam yamg diharapkan mengembangkan pengetahuan klien terhadap rencana terapeutik
4.  Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia yangd dapat dimanifestasikan sebagai ketakutan


Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya
2
Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan refleks spasme otot sekunder

Tujuan : nyeri akut berkurang/ hilang
Kriteria hasil :
a. Nyeri berkurang atau dapat di adaptasi
b. Dapat mengidentifikasi aktifitas yang dapat meningkatkan atau menurunkan nyeri
c. Pasien tidak gelisa
1.  Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan peredah neyri nonfarmakologi dan noninfasif





2.    Ajarkan relaksasi : teknik – teknik untuk menurunkan ketegangan otot rangka, yang dapat menurunkan intensitas nyeri dan juga tingkatkan relaksasi masase
3.    Berikan kesempatan waktu istirahat bila terasa nyeri dan berikan posisi yang nyaman , misal waktu tidur, belakangnya dipasang bantal kecil
4.    Tingkatkan pengetahuan : sebab – sebab nyeri dan menghubungkan berapa lama nyeri akan berkangsung
5.    Kolabirasi dengan dokter pemberian analgetik
1.  Pendekatan dengan menggunakan relaksasi dan nonfarmokologi lainnay dalam menunjukkan keefektifan dalam mengurangi nyeri
2.  Akan melancarkan peredaran darah sehingga kebutuhan O2 oleh jaringan akan erpenuhin sehingga akan mengurangi nyerinya


3.  Istirahat akan merelaksasi semua jaringan sehingga akan meningkatkan kenyamanan





4.  Pengethuan yang akan dirasakn membantu mengurangi nyerinya
5.  Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga nyeri akan berkurang
3
Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan tempat masuknya organisme sekunder terhadap trauma

Tujuan : infeksi tidak terjadi / terkontrol
Kriteria Hasil :
a.  Tidak ada tanda – tanda infeksi seperti pus
b.  Luka bersih tidak lembab dan tidak kotor
c.  Tanda -tanda vital dalam batas normal
1.  Pantau tanda – tanda vital




2.  Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik
3.  Lakukan perawatan teradap prosedur infasif seperti infus, kateter, drainase luka, dll
4.  Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan Leokosi
5.  Kolaborasi untuk pemberian antibiotik
1.  Mengidentifikasi tanda- tanda peradangan terutama bila suhu tubuh meningkat
2.  Mengendalikan penyebaran mikroorgansime patogen
3.  Untuk mengurangi resiko infeksi nesokomial
4.  Penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal bisa terjadi akibat terjadinya proses infeksi
5.  Antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen










BAB IV
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Trauma adalah keadaan yang disebabkan oleh luka atau cedera (Dorland, 2002 ). Pada kenyataannya, trauma adalah kejadian yang  bersifat holistic dan dapat menyebabkan hilangnya produktivitas seseorang. Trauma thorax adalah semua ruda paksa pada thorax dan dinding thorax, baik trauma tajam atau tumpul (Hudak,1999 ). Luka tembus (GSW) dan luka tusuk adalah jenis trauma dada tembus yang palin umum. Trauma adalah penyebab kematian terbanyak pada dekade 3 kehidupan diseluruh kota besar di dunia dan diperkirakan 16.000 kasus kematian akibat trauma per tahun yang disebabkan oleh trauma toraks.

B.     Saran
            Peran perawat dalam penanganan trauma dada  mencegah terjadinya infeksi pada area yang terjadi trauma dengan memberikan asuhan keperawatan yang tepat










DAFTAR PUSTAKA
Dorland. 2011. Kamus Saku Kedokteran Dorland. Jakarta : EGC
Doenges. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC
Lynda Juall, Carpenito.2000. Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC
Rab, Tabrani. 2010. Ilmu penyakit Paru. Jakarta : TIM
Suzzanae, Smeltzer. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner and Suddarth. Jakarta : EGC